08 oktober 2013/19;18 wib
Sepulang dari nginap di rumah sakit Ibnu Sina menemani Karomlah yang mengidap penyakit radang usus buntu. Letihnya terasa waw banget
sampai2 belum sempat mandi langsung tepar di tempat tidur, pas adzan solat dzuhur solat dulu tuh. eeeh.....abis itu disambung lagi tidurnya.
padahal gak ngapain-ngapain loh selama di rumah sakit tapi maklum aja lah.....namanya umur juga berpengaruh ternyata(hihihi...kesannya udah tua bgt).
Ada hal menarik di sini ternyata kita mesti bersyukur memiliki beragam bahasa daerah...seperti kali ini ana sempat terbingung-bingung dengan ekspresi melongo hahaha....
yang buat teman ana Dian selalu terbahak-bahak melihatnya.
Kadang ana malu juga kalau setiapkali Karomlah berbicara dengan keluarganya, Dian yang dengan antusianya akan memperhatikan ana.......yang akan melongo karena tidak tahu dasar usil sekali anak yang satu ini....
#
Sepulang dari rumah sakit kami bertiga Era, Dian dan tentunya ana sendiri menaiki angkot tujuan Pasar Raya, setelah sampai di pasar kami menyambungnya dengan angkot jurusan Labor kali ini angkot yang kami naiki sepertinya kurang beruntung karena isinya hanya kami bertiga sampai di Gramedia pun masih begitu, sehingga sang sopir sepertinya berinisiatif akan memindahkan kami bertiga ke angkot lain, benar saja katika angkot lain datang kami bertiga di pindahkan. It's not problem..........yang pentingkan gak bayar dua kali ajah....hihihi
Kamipun hening menikmati suasana angkot yang syahdu. Namun aku terhenyak ketika kami berenti di lampu merah untuk berbagi jalan dengan kendaraan yang berbeda arah jalannya, disini ada yang membuat mata ana tidak menoleh kemana-mana lagi, hanya melihat pemandangan yang ada di depan mata ana ini........Inalillahi....sungguh kita semua ini hanya sementara dan akan kembali lagi kepada yang menciptakannya. Sabbarlah wahai bapak engkau kini sedang diuji untuk bersabar menerima kondisimu kini tanpa satu kaki, kaki yang lain pun kecil sehingga sang bapak begitu susah untuk berdiri. Tampak jelas raut wajah beliau yang malu, malu untuk melakukan ini semua....sang bapak tersebut meminta2 kepada setiap pengendara yang melewati jalan , bahkan tidak mungkin pernah beliau mengingini hal ini semua. Semangat pak
Astagfirullah......sungguh ana belum ada apa2nya
Ya Rabb ampuni hamba yang selalu tidak pernah merasa puas dengan semua ini....astagfirullah
Sepulang dari nginap di rumah sakit Ibnu Sina menemani Karomlah yang mengidap penyakit radang usus buntu. Letihnya terasa waw banget
sampai2 belum sempat mandi langsung tepar di tempat tidur, pas adzan solat dzuhur solat dulu tuh. eeeh.....abis itu disambung lagi tidurnya.
padahal gak ngapain-ngapain loh selama di rumah sakit tapi maklum aja lah.....namanya umur juga berpengaruh ternyata(hihihi...kesannya udah tua bgt).
Ada hal menarik di sini ternyata kita mesti bersyukur memiliki beragam bahasa daerah...seperti kali ini ana sempat terbingung-bingung dengan ekspresi melongo hahaha....
yang buat teman ana Dian selalu terbahak-bahak melihatnya.
Kadang ana malu juga kalau setiapkali Karomlah berbicara dengan keluarganya, Dian yang dengan antusianya akan memperhatikan ana.......yang akan melongo karena tidak tahu dasar usil sekali anak yang satu ini....
#
Sepulang dari rumah sakit kami bertiga Era, Dian dan tentunya ana sendiri menaiki angkot tujuan Pasar Raya, setelah sampai di pasar kami menyambungnya dengan angkot jurusan Labor kali ini angkot yang kami naiki sepertinya kurang beruntung karena isinya hanya kami bertiga sampai di Gramedia pun masih begitu, sehingga sang sopir sepertinya berinisiatif akan memindahkan kami bertiga ke angkot lain, benar saja katika angkot lain datang kami bertiga di pindahkan. It's not problem..........yang pentingkan gak bayar dua kali ajah....hihihi
Kamipun hening menikmati suasana angkot yang syahdu. Namun aku terhenyak ketika kami berenti di lampu merah untuk berbagi jalan dengan kendaraan yang berbeda arah jalannya, disini ada yang membuat mata ana tidak menoleh kemana-mana lagi, hanya melihat pemandangan yang ada di depan mata ana ini........Inalillahi....sungguh kita semua ini hanya sementara dan akan kembali lagi kepada yang menciptakannya. Sabbarlah wahai bapak engkau kini sedang diuji untuk bersabar menerima kondisimu kini tanpa satu kaki, kaki yang lain pun kecil sehingga sang bapak begitu susah untuk berdiri. Tampak jelas raut wajah beliau yang malu, malu untuk melakukan ini semua....sang bapak tersebut meminta2 kepada setiap pengendara yang melewati jalan , bahkan tidak mungkin pernah beliau mengingini hal ini semua. Semangat pak
Astagfirullah......sungguh ana belum ada apa2nya
Ya Rabb ampuni hamba yang selalu tidak pernah merasa puas dengan semua ini....astagfirullah
Komentar
Posting Komentar