Kisah ini terjadi begitu saja kalau sang hati

Alkisah di sebuah kerajaan yang sedang berjaya dimasanya. Di sana kita akan menemui seorang ratu yang memimpin di masa itu, kemudian sang putri dengan si sekretaris kerajaan. Kerajaan tersebut terdapat memiliki hamba yang biasanya sang putri akan menuntut ini itu dll. Kerajaan itu kini amatlah maju sehingga di setiap bulan pihak kerajaan akan meminta laporan kegiatan yang di lakukan oleh hambanya tersebut beserta keluarga untuk catatan sejarah ceritanya.
Di setiap bulannya sang hamba sahaya akan melapor terus-menerus dan sang putri akan menilai laporan tersebut.
Ada seorang hamba yang tekun memberikan laporan namun mengalami kekecewaan mendalam dikala sang putri ternyata mudah sekali ditipu oleh hamba lainnya melalui perkataan. Disini terasa sekali bahwa fitnah itu memang lebih kejam dari pembunuhan nyata sendiri.
Sang hamba yang mulanya tekun kini tak lagi memberikan laporan tiap bulannya. 
Sang putri kemudian menghubungi sekretaris kerajaan untuk menanyakan alsebab kenapa banyak kini hambaya yang tidak memberikan laporan. Sekretaris kerajaan kemudian mengultimatum setiap hamba yang tidak memberikan laporan atau telat memberikannya akan menerima akibatnya sediri. Hahaha......Dengan pongahnya sang sekretaris berbicara tanpa pandang mata...eits pandang bulu biasanya.
Si hamba dengan sabar dan penuh Khidmah akhirnya memberikan laporannya bahkan ada air mata yang ia pendam sendiri. Seperti itu seterusnya si hamba sahaya, ia hanya bisa memendamnya sendiri. Tidak akan ada yang peduli dengan apa yang ia rasakan selama ini. Ia harus berjuang sendiri di kala keluarga yang ia harapkan tak pernah baik. Di kala selama ini ia selalu bahagia dengan sikap sang putri yang biasanya selalu menanyakan penyebab dan bahkan cenderung ikut membantu. Kini tak lagi seperti itu. Sang putri sibuk mendengarkan fitnah-fitnah yang ada, sibuk dengan semua rutinitasnya.
##
Si hamba tersenyum dengan semua yang ada kini, ia mulai menyadari mungkin ini tidak ada hubungannya dengan manusia. Ia merasa ini semua bersangkutan dengan ia dan Tuhannya. Ia kini mulai belajar arti rasa kagum yang sebenarnya, arti yang sesungguhnya akan kehidupan di dunia ini. Tidak adalah yang sempurna.
Semua hanya sebuah soal kehidupan.
Sebuah soal yang mesti kita jawab sendiri.
Soal yang memiliki kualitasnya berbeda.
Kita akan menjawabnya sendiri.
Apa jawabannya? 
Hanya kita yang pandai memahami soal sesuai ilmu yang kita miliki dan jawablah.
Jawablah soal-Nya dan percayalah nilaimu sedang menanti. 
(Sepenggal kisah yang tak dapat ku uraikan sendiri melalui kata yang terucap)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan KADO " 19/02/14"

Perpustasat UNP

Ga di sangka